SUKU MELAYU DI TANJUNG PINANG

SUKU MELAYU DI TANJUNG PINANG

Suku melayu mulai hadir dalam kehidupan saya semenjak 2011. Sebagai orang Jawa yang berdomisili di Batam, saya terkadang bingung saat ditanya saya berasal darimana. Pasalnya sebagian besar waktu saya dihabiskan di Jawa. Meskipun KTP saya tercatat sebagai penduduk Batam, namun selama 22 hidup saya hanya menghabiskan 3 tahun disana. Saat saya mengatakan saya berasal dari Batam, yang paling sering terbesit di benak lawan bicara saya adalah BM atau Black Market. Tidak bisa dipungkiri memang barang-barang dari luar negeri sering diselundupkan lewat batam mengingat lokasi batam yang sangat strategis dari segi jalur laut. Batam berbatasan langsung dengan selat malaka sehingga beberapa negara tetangga bisa mudah mengakses Indonesia dari sini.

Namun ternyata salah satu fakta yang mengejutkan adalah kebanyakan lawan bicara saya salah sangka jika Batam merupakan ibukota provinsi Kepulauan Riau. Nyatanya dari zaman baheula, ibukota provinsi Kepulauan Riau ya Tanjung Pinang. Banyak yang mengklaim jika Tanjung Pinang tidak seramai Batam. Hal itu memang benar adanya. Bahkan sebagian orang beranggapan Batam lebih maju daripada Tanjung Pinang dilihat dari banyak sisi. Mengapa bisa begitu ya? Bukankah kebanyakan ibukota provinsi ditempatkan di lokasi yang strategis dan terpusat? Ya, kebanyakan memang begitu. Tapi hal ini tidak berlaku di provinsi Kepulauan Riau.

Pada penasaran dong alasannya apa?

Sumber: www.halallifestyle.id

Alasan utama berdasarkan pemahaman saya adalah karena Batam diduduki oleh beragam suku sedangkan pemerintah setempat menginginkan suku asli (pribumi) sebagai pemimpin. Dan Tanjung Pinang adalah jawabannya. Tempat dimana pribumi Kepulauan Riau mendominasi pemukiman. Hal ini sah-sah saja sebenarnya, barang kali untuk menghindari “invasi” berlebihan ya hehe… Tanjung Pinang banyak dihuni oleh orang melayu. Kebudayaan dan adat istiadat melayu masih sangat kental di wilayah tersebut. Kalau Batam mah sudah bercampur lebur akibat asimilasi dan akulturasi antar suku. Bisa dibilang semua suku hadir di Batam, mulai dari suku Jawa, Melayu, Minang, Batak, Bugis, Chinese bahkan India juga.

Kali ini saya ingin memberikan sedikit ulasan tentang suku Melayu, khususnya Melayu Kepulauan Riau. Saya ingin masyarakat umum juga mengenal suku Melayu sebagai salah satu suku asli Indonesia. Melayu tidak hanya milik Malaysia, tapi Indonesia juga punya. Bahkan Bahasa nasional kita sebenarnya di adaptasi dari Bahasa Melayu Kepulauan Riau loh…

Check this out!

Suku Melayu [1][2] adalah nama yang ditunjukkan pada suatu kelompok yang utamanya menggunakan penuturan Bahasa Melayu. Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan serta pulau-pulau kecil yang terbenatang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata. Di Indonesia, jumlah suku Melayu sekitar 15% dari seluruh populasi yang sebagian besar mendiami provinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Kalimantan Barat[3].

Sejarah

Nama “Malayu” berasal dari Kerajaan Malayu yang pernah ada di kawasan Sungai Batang Hari. Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu akhirnya takluk dan menjadi bawahan Kerajaan Sriwijaya[4]. Pemakaian istilah Melayu-pun meluas hingga ke luar Sumatera, mengikuti territorial imperium Sriwijaya yang berkembang hingga ke lawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Jadi orang Melayu Semenanjung berasal dari Sumatera [5].

Berdasarkan prasasti Keping Tembaga Laguna, pedagan Melayu telah berdagan ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga turut serta membawa adat budaya dan Bahasa Melayu pada kawasan tersebut. Bahasa Melayu akhirnya menjadi lingua franca menggantikan Bahasa Sansekerta [6]. Era kejayaan Sriwijaya merupakan masa emas bagi peradaban Melayu, termasuk pada masa wangsa Syailendra di lawa, kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Dharmasraya sampai abad ke-14 dan terus berkembang pada masa Kesultanan Malaka [7] [8] [9] sebelum kerajaan ini ditaklukan oleh kekuatan tentara Portugis pada tahun 1511.

Masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-12 diserap baik-baik oleh masyarakat Melayu. Islamisasi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat jelata, namun telah menjadi corak pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu. Diantara kerjaan-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Perak, Kesultanan Pahang, Kesultanan Brunei dan Kesultanan Siak. Kedatangan kolonialis Eropa telah menyebabkan terdiasporanya orang-orang Melayu ke seluruh Nusantara, Srilanka dan Afrika Selatan. Di perantauan mereka banyak mengisi pos-pos kerajaan seperti menjadi syahbandar, ulama dan hakim.

Dalam perkembangan selanjutnya hamper seluruh Kepulauan Nusantara mendapatkan pengaruh langsung dari Suku Melayu. Bahasa Melayu yang telah berkembang dan dipakai oleh banyak masyarakat Nusantara, akhirnya dipilih menjadi Bahasa nasional Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Melayu Indonesia[10]

Secara ras atau rumpun bangsa, Melayu di Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Melayu Deutero dan Melayu Proto .

Melayu Deutero adalah rumpun Melayu Muda yang datang setelah Melayu Proto pada Zaman Logam  sekitar lebih kurang 500 SM. Rumpun yang masuk gelombang kedua ini meliputi suku bangsa Melayu, Aceh, Minangkabau, SUnda, Jawa, Manado,  yang bermukim di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Madura dan Sulawesi.

Melayu Proto adalah rumpun Melayu Tua yang datang kali pertama pada masa lebih kurang 1500 SM meliputi suku bangsa Dayak, Toraja, Sasak, Nias, Batak, Kubu dll. yang bermukim di pulau Kalimantan, Sulawesi, Nias, Lombok, dan Sumatra.

Adapun golongan lain yang bukan termasuk rumpun Melayu namun tetap termasuk bangsa di Indonesia yaitu rumpun Melanesia yang bermukim di bagian wilayah timur Indonesia. Meskipun demikian, istilah Melayu yang digunakan di Indonesia lebih mengacu pada arti suku bangsa yang lebih spesifik sehingga Melayu yang ada tidak termasuk suku bangsa Jawa yang merupakan suku bangsa mayoritas.

Berikut ini uraian suku Melayu di wilayah Indonesia

Kependudukan di Tanjung Pinang

Suku Melayu merupakan penduduk asli dan kelompok suku bangsa terbesar di Tanjung Pinang. Disamping itu terdapat pula Suku Bugis, Suku Minang, Orang Laut dan Tionghoa  yang sudah ratusan tahun berbaur dengan Suku Melayu dan menjadi penduduk tetap semenjak zaman Kesultanan Johor-Riau  dan Residentie Riouw.[11] Suku Bugis awalnya menetap di Kampung Bugis dan Suku Tionghoa banyak menempati Jalan Merdeka dan Pagar Batu. Setelah masa kemerdekaan, orang Jawa dan Minang mulai ramai mendatangi Tanjungpinang. Dimana orang Minang sebagian besar menempati pemukiman di sekitar pasar[12], sedangkan Suku Jawa banyak yang bermukim di Kampung Jawa.

Bahasa yang digunakan di Tanjungpinang adalah  Bahasa Melayu klasik. Bahasa Melayu di kota ini hampir sama dengan Bahasa Melayu yang digunakan di Singapura. Disamping itu, banyak pula yang menggunakan Bahasa Jawa, Minangkabau dan Batak[13] Masyarakat Tionghoa yang dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, sebagian masih menggunakan Bahasa Tiochiu dan Hokkien dalam berkomunikasi.

 

Referensi:

  1. (Inggris)Malayan miscellanies, Malayan miscellanies (1820). Malayan miscellanies . Malayan miscellanies.
  2.  (Inggris)Milner, Anthony (2010). The Malays. John Wiley and Sons. ISBN 9781444339031.ISBN 1444339036
  3.  Suryadinata, Leo (2003). Indonesia’s Population, Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 981-230-212-3.
  4.  “Early Malay kingdoms”. Sabrizain.org. Diakses pada 21 Juni 2010.
  5.  (Inggris) Kahn, Joel S. (1998). Southeast Asian identities: culture and the politics of representation in Indonesia, Malaysia, Singapore, and Thailand. I.B.Tauris. hlm. 69. ISBN 1860642454.ISBN 9781860642456
  6. Zaki Ragman (2003). Gateway to Malay culture. Singapore: Asiapac Books Pte Ltd. hlm. 1–6. ISBN 981-229-326-4.
  7.  Alexanderll, James (September 2006). Malaysia Brunei & Singapore. New Holland Publishers. hlm. 8. ISBN 1860113095, 9781860113093.
  8.  “South and Southeast Asia, 500 – 1500”. The Encyclopedia of World History 1. (2001). Houghton Mifflin Harcourt. 138.
  9.  O. W. Wolters (1999). History, culture, and region in Southeast Asian perspectives. Singapore: Cornell University Southeast Asia Program Publications. hlm. 33. ISBN 978-0877277255.
  10. https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu
  11. Nicholas J. Long; Being Malay in Indonesia: Histories, Hopes and Citizenship in the Riau Archipelago, 2013
  12. Novendra, Nov., Peranan Orang Minang Dalam Perekonomian Kota Administratif Tanjung Pinang, Depdikbud, 1999
  13. U.U. Hamidy, Bahasa Melayu Riau: Sumbangan Bahasa Melayu Riau kepada Bahasa dan Bangsa Indonesia, Pustaka A.S., 1981

 

 

Share this post

Post Comment