KRISIS ENERGI DORONG MAHASISWA ITS CIPTAKAN INTIP

KRISIS ENERGI DORONG MAHASISWA ITS CIPTAKAN INTIP

Riset besar-besaran untuk menemukan bahan bakar non-minyak tengah gencar dilakukan. Bahan bakar yang diharapkan dapat diperbarui dan tidak menimbulkan polusi. Jumlah cadangan minyak dunia jelas terbatas. Diperkirakan cadangan tersebut akan habis dalam kurun waktu 218 tahun untuk batu bara, 41 tahun untuk minyak bumi dan 63 tahun untuk gas alam. Bahan bakar minyak memiliki perbedaan dengan bahan bakar terbarui dari segi kualitas, fleksibilitas dan biaya.  Minyak bumi merupakan hasil transformasi biomasa yang tertimbun dalam tanah selama 200 juta tahun sehingga jumlahnya sangat terbatas. Peningkatan konsumsi minyak bumi dan keterbatasan cadangannya menyebabkan penurunan pasokan minyak bumi sehingga harga minyak bumi naik dan berdampak pada kesejahteraan sosial[1].

BBM menyumbang sekitar sepertiga dari seluruh energi yang digunakan di dunia. Konsumsi dunia terhadap produk olahan minyak bumi terus meningkat. Tahun 2005 kebutuhan BBM sekitar 84 juta barel per hari. Bahkan India sebagai konsumen energi kelima terbesar dunia mengimpor hampir 70% kebutuhan minyak mentahnya (90 juta ton) selama 2003-2004. Diperkirakan angka ini akan meningkat menjadi 95% pada 2030[2].

PR besar terkait ini menjadi perhatian sebagian besar negara untuk mengembangkan sumber-sumber energi terbarui. Energi terbarui merupakan energi yang berasal dari sumber daya yang dapat diregenerasi, tidak dapat habis sehingga tersedia dalam jangka panjang. Alasan inilah yang membedakan sumber energi terbarui dengan bahan bakar fosil. Energi terbarui tidak menghasilkan gas rumah kaca dan polutan-polutan lain yang dihasilkan bahan bakar fosil[1].

Ada beberapa bahan alternatif yang bisa dijadikan sebagai sumber energi terbarui, seperti matahari, panas bumi (geothermal), angin, hydropower, biomassa, energi tidal dan masih banyak lainnya[3].

Sebagai negara kepulauan, gelombang laut Indonesia memiliki potensi energi yang sangat besar. Namun, sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang saat ini dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah laut yang cukup luas. Satu pertiga luas Indonesia adalah daratan dan dua pertiga luas Indonesia adalah lautan. Luas daratan Indonesia adalah 1.919.440 km²   dengan luas lautan sekitar 3.273.810 km² yang terbentang sepanjang 3.977 mil dari Samudera Indonesia hingga Samudera Pasifik[4].

Sumber: https://wartasas.com/pendidikan/mahasiswa-its-ciptakan-pembangkit-listrik-tenaga-gelombang-laut/

Luasnya lautan Indonesia menginspirasi empat mahasiswa Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mengonsep suatu yang diberi nama Indonesia Tidal Power (INTIP). Keempat mahasiswa ITS Surabaya tersebut adalah Ghufron Fawaid, Muhammad Rifky Abdul Fattah, Pinanggih Rahayu dan Aniq Jazilatur. Dalam kesempatan uji coba Indonesia Tidal Power (INTIP), pada Kamis, 04 Januari 2018 di Kampus ITS Surabaya, keempat mahasiswa ITS Surabaya menunjukkan cara kerja Indonesia Tidal Power (INTIP) [5].

Alasan mendasar yang melatari ide konsep tersebut dikarenakan kebutuhan energi listrik nasional yang selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terlebih, Indonesia saat ini bisa dikatakan sedang mengalami krisis energi listrik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau tertinggal, terdepan dan terluar (3T) [6].

“Alasan mendasar yang melatari ide konsep tersebut dikarenakan kebutuhan energi listrik nasional yang selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kebutuhan ini tidak mampu terpenuhi dengan pembangkit listrik yang ada sekarang,” kata Rifky saat ditemui dalam kesempatan uji coba cara kerja INTIP, Kamis, (04/01/18) [5].

“Padahal, kita tahu Indonesia memiliki potensi energi yang sangat besar dari gelombang laut. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Harusnya Indonesia lebih jeli dalam memanfaatkan potensi energinya,” tambahnya[5].

“Dengan memanfaatkan gelombang laut sebagai pembangkit listrik, pulau terpencil di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar dapat turut mendapatkan akses listrik. Dampaknya, rasio elektrifikasi nasional akan merambat naik,” terangnya[5].

Abdul, Mahasiswa asal Kalimantan ini melanjutkan, salah satu teknologi pembangkit energi listrik tenaga ombak yang paling banyak diminati adalah Oscilating Water Column. “Pengaplikasian alat ini diletakkan di pesisir laut dan sangat cocok digunakan sebagai pembangkit listrik di pesisir pulau daerah 3T tersebut”, ujarnya[6].

Sayangnya, Oscilating Water Column memiliki tingkat efisiensi yang masih rendah karena suplai udara ke generator tidak kontinyu. Dalam hal ini, Abdul dan tim membuat inovasi pembangkit listrik sistem kombinasi tenaga gelombang laut tipe Oscilating Water Column dan angin yang memanfaatkan sistem katup. Pembangkit inovatif ini kemudian diberi nama Indonesia Tidal Power (INTIP)[6].
Abdul menjelaskan, dari hasil pengujian, nilai tegangan yang dihasilkan INTIP mengalami peningkatan sebesar 24 persen dibandingkan dengan teknologi konvensional. Sistem katup INTIP membuat sistem searah, sehingga terdapat celah udara bertekanan yang mengalir dengan bebas. “Kemudian kami manfaatkan udara bertekanan tersebut untuk menggerakan pembangkit listrik tenaga angin,” kata Abdul[6].

“Hasil pengujian, nilai tegangan yang dihasilkan INTIP mengalami peningkatan sebesar 24 persen dibandingkan dengan teknologi konvensional. Sistem katup INTIP membuat sistem searah, sehingga terdapat celah udara bertekanan yang mengalir dengan bebas untuk menggerakan pembangkit listrik tenaga angin,” papar Rifky[5].

Abdul berharap, inovasi yang mereka tawarkan ini mampu membantu memenuhi kebutuhan listrik di daerah 3T dengan lokasi di sekitar pesisir. “Generasi emas 2045 akan lahir ketika pemerataan energi melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia telah terpenuhi,” pungkasnya[7].

  1. Pandey, A., 2009. Handbook of Plant-Based Biofuels. USA: CRC Press Taylor & Francis Group
  2. World Energy Outlook 2005
  3. http://www.ilmusiana.com/2016/01/15-sumber-energi-alternatif-di-alam.html
  4. http://www.invonesia.com/luas-wilayah-negara-indonesia.html
  5. https://wartasas.com/pendidikan/mahasiswa-its-ciptakan-pembangkit-listrik-tenaga-gelombang-laut/
  6. http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/18/01/04/p20y98368-mahasiswa-manfaatkan-gelombang-laut-untuk-pembangkit-listrik
  7. http://www.centroone.com/News/Detail/2018/1/4/21662/krisis-energi-dorong-mahasiswa-its-ciptakan-pembangkit-listrik-gelombang-laut

 

Share this post

Post Comment