DOSEN MEMBONSANKAN? INILAH STRATEGINYA!

DOSEN MEMBONSANKAN? INILAH STRATEGINYA!

Dunia perkuliahan tidaklah seindah yang anak SMA bayangkan. Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut. Karena apa yang saya bayangkan saat SMA mengenai dunia perkuliahan memang bedaaaaa sekali dengan apa yang saya alami saat menempuh S1. Yang paling kentara perbedaan diantara keduanya adalah sistem pembelajaran yang digunakan.

Seorang mahasiswa dituntut sebisa mungkin untuk bisa proaktif dan belajar mandiri. Dosen bukanlah satu-satunya perhatian pokok yang terpusat, namun studi literatur hingga belajar kelompok juga menjadi poin penting yang harus diperhatikan. Dosen cenderung memberikan sedikit pengarahan dan penjelasan di kelas, selanjutnya tugas diberikan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait materi yang disampaikan di kelas. Tugas yang diberikan bisa berupa tugas individu maupun kelompok yang menuntut adanya literatur yang berhubungan dengan kasus tersebut.

Jadi kesimpulannya dosen hanya berperan sedikit. Selebihnya itu tergantung sama kita sebagai mahasiswa mau berusaha ekstra apa enggak biar makin ngerti.

Namun, ada hal yang harus digarisbawahi disini ya. Kalau perlu di-italic, bold, underline semuanya dah haha. Terutama buat kamu yang mau atau sudah mengambil jurusan non-pendidikan. Tidak semua dosen memiliki kecakapan mengajar yang baik. Meskipun saat penerimaan dosen telah diuji untuk microteaching, ternyata hal itu tidaklah cukup. Ini terjadi karena yang dikejar kebanyakan dosen adalah materi, bukan kesepahaman yang diperoleh mahasiswa. Memang tidak bisa di-general-kan seperti itu sih. Beberapa dosen non-pendidikan pun ada yang memiliki kemampuan mengajar cukup baik dan beberapa dosen fakultas pendidikan bisa jadi ada yang background-nya non-pendidikan seperti linguistik atau sastra.

Kali ini, saya ingin membagikan tips dan trik dalam menghadapi dosen yang mengajarnya “membosankan”. Apa jadinya jika dosen yang mengajarmu itu monoton, suaranya kecil atau terdengar tidak jelas seperti gumaman, dan bicaranya muter-muter ketika mengajar? Padahal mata kuliah yang diampunya sulit dan penguasaanmu sangat menentukan lulus tidaknya kamu di mata kuliah itu. Males banget gak sih… apalagi kalo harus ngulang semester depan. Makin males lagi pastinya ketemu sama dosen itu lagi itu lagi 😀

Berikut ini beberapa hal yang dapat kamu coba dalam mensiasati hal tersebut:

  1. Duduk paling depan

    Sumber: happyirfa.blogspot.com

Chris Hakala selaku Direktur pada Pusat Pendidikan dan Latihan di Western New England University memaparkan posisi tempat duduk yang kita pilih di kelas mempengaruhi bagaimana dosen memandang dan menerima kita. Mahasiswa yang memilih duduk di depan kelas akan lebih mudah membina dan mengembangkan hubungan yang baik dengan dosen mereka. Kemudahan ini tidak akan dimiliki oleh mereka yang duduk di bagian belakang kelas. Mahasiswa yang memilih duduk di depan juga akan lebih mudah menjaga kontak mata dengan dosen mereka. Tidak hanya itu, dengan memilih duduk di depan, kita juga lebih mudah memusatkan perhatian. Pada umumnya, barisan mahasiswa yang duduk di kursi paling depan memang memiliki kecenderungan untuk lebih memperhatikan materi yang disampaikan dosen. Meski demikian bukan berarti jika yang duduk di belakang tidak memperhatikan yaaa… sebenarnya itu tergantung dari pribadi masing-masing. Terkadang, mahasiswa terlalu gugup untuk duduk di depan dan menyampaikan pendapatnya di dalam kelas. Itulah sebabnya mereka memilih duduk di belakang. Intinya dimana pun kamu duduk, yang penting adalah pilih tempat duduk yang nyaman untukmu. Dengan begitu, kamu bisa mengembangkan rasa percaya diri, dan siapa tahu secara perlahan mau duduk di depan kelas dan mengembangkan hubungan yang kuat dengan dosenmu.

  1. Catat setiap perkataan dosenmu

    Sumber: reka-kufi.blogspot.com

Meskipun terdengar monoton dan membosankan, sebaiknya kamu tetap mendengarkan dan mencatat setiap penjelasan dari dosen. Karena bisa jadi apa yang diutarakannya meskipun dalam nada datar itu merupakan materi penting yang akan dikeluarkannya saat ujian tiba. Ada beberapa penjelasan dosen yang memang tidak tercantum di modul maupun file presentasi. Atau mungkin saja tercantum, namun dalam bahasa ilmiah yang lebih rumit untuk dipahami. Penjelasan dosen yang kamu catat itu haruslah sesuai dengan pemahaman yang kamu dapatkan, artinya materi tersebut bisa kamu jelaskan kembali dalam kata-katamu sendiri.

  1. Jangan ragu bertanya

    Sumber: https://ayahnabil.files.wordpress.com/

Sebagian dosen menggunakan paham seperti ini “Kalau tidak ada yang bertanya, semua saya anggap paham”. Tak terkecuali dosen monoton itu hehe. Ketika dosenmu menyampaikan materi, perhatikanlah baik-baik. Jangan ragu untuk menanyakan bagian yang belum kamu mengerti. Tidak masalah jika kamu menyela pemaparan materi yang disampaikan (tapi jangan menyela saat beliau masih ngomong ‘coz itu gak sopan banget believe me!). Mintalah dosenmu untuk mengulang kembali penjelasannya sampai kamu benar-benar mengerti. Sebagian teman saya mungkin merasa malu untuk menanyakannya langsung. Tapi kalau pribadi sih bakal nanya secara itu kan hak kita sebagai mahasiswa yang udah bayar mahal-mahal haha

Atau jika kamu terlalu malu bertanya dalam kelas, kamu bisa menemui dosen tersebut di luar kelas dan menanyakannya langsung. Bertanya dengan temanmu yang lebih pandai juga dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai materi tersebut.

Itulah beberapa strategi yang bisa kamu gunakan dalam menghadapi dosen membosankan di kelas. Terlepas seberapa monoton dan membosankannya dosenmu di kelas, tetap hormati mereka. Bagaimana pun menjadi dosen tidaklah mudah. Kita tidak pernah tahu sesulit apa perjuangan yang mereka tempuh untuk mendapatkan gelar yang mengizinkan mereka untuk mengajar perkuliahan :”

Yang tidak kalah penting, tetaplah belajar secara mandiri. Ini penting banget. Kita tidak bisa 100% mengandalkan materi dari dosen. Kita juga perlu memperkaya wawasan kita dengan membaca dan belajar lebih di luar kelas.

Semoga ulasan ini cukup membantu kamu yaaa…. Selamat mencoba! 😊

 

Share this post

Post Comment