LGBT dalam Kacamata Beberapa Negara Dunia

LGBT dalam Kacamata Beberapa Negara Dunia

LGBT tengah menggemparkan dunia akhir-akhir ini  di negara-negara berbagai belahan benua. Apa sih LGBT? LGBT singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender memiliki definisi masing-masing. In a simple words, definisinya kayak gini:

  1. Lesbian: Anda disebut lesbi kalo kamu perempuan dan kamu menyukai perempuan juga.
  2. Gay: kebalikan dari lesbian, gay itu sebutan untuk laki-laki penyuka laki-laki.
  3. Biseksual: nah kalo biseksual itu kondisi dimana seseorang memiliki ketertarikan yang sama kuatnya kepada perempuan dan laki-laki regardless jenis kelaminnya apa. Bisa jadi hari ini dia suka cewek, besok udah ganti suka cowok.
  4. Transgender: kondisi dimana seseorang berganti kelamin misalnya dari cewek ke cowok atau sebaliknya. Pergantian ini bisa melalui operasi kelamin dengan operasi plastik.

Sebagian besar masyarakat dunia memandang bahwa manusia digariskan untuk berpasang-pasangan menyukai lawan jenis. Orang yang menyukai sesama jenis dianggap tidak lazim dan menyalahi norma sosial dan agama. Tapi siapa sangka kalo lambat-laun sebagian negara melegalkan LGBT dan pernikahan sesama jenis. Negara-negara tersebut umumnya negara-negara yang menganut prinsip demokrasi (kebanyakan sih demokrasi liberal). Sebagaimana yang kita ketahui bahwa negara demokrasi menjunjung tinggi perlindungan terhadap hak asasi manusia. Kebebasan untuk mencintai individu lain dan melakukan legalisasi hubungan percintaan dalam lembaga sosial (baca: pernikahan) juga termasuk dalam hak asasi yang dilindungi tanpa melihat jenis kelamin, dan latar belakang suku, ras, agama dan kelompok sosial.

Setidaknya ada 22 negara dari 204 negara yang diakui secara de facto oleh PBB telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Mulanya, negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis berasal dari bagian barat, yaitu:

  1. Norwegia (1993)
  2. Belanda (2001)
  3. Belgia (2003)
  4. Spanyol (2005)
  5. Kanada (2005)
  6. Afrika Selatan (2006)
  7. Swediaa (2008)
  8. Portugal (2009)
  9. Meksiko (2009)
  10. Islandia (2010)
  11. Argentina (2010)
  12. Uruguay (2010)
  13. Selandia Baru (2013)
  14. Perancis (2013)
  15. Denmark (2013)
  16. Inggris dan wales (2013)
  17. Skotlandia (2014)
  18. Brazil (2014)
  19. Luksemburg (2014)
  20. Finlandia (2014)
  21. Irlandia (2015)
  22. Amerika Serikat (2015)

26 Juni 2015 menjadi hari bersejarah bagi kaum LGBT sebab pada tanggal itulah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) melegalkan pernikahan sesama jenis. Keputusan lembaga tinggi di negeri Paman Sam diyakini dapat mempengaruhi banyak negara untuk membuat keputusan serupa.

Saat ini, pernikahan gay sah dilegalkan di sebagian negara bagian AS: Connecticut, Iowa, Massachussets, Oregon, New Hampshire, New York, New Jersey, Vermont, Maryland, Hawaii, Maine dan Washington DC.

Selain 22 negara yang telah disebutkan di atas, ternyata ada beberapa negara Islam juga lho yang melegalkan Gay dan Lesbian. Negara-negara tersebut antara lain:

  1. Turki

Pelegalan hubungan sesama jenis sudah berlangsung sejak kekhalifahan Utsmaniyah (1858). Hingga kini Turki masih mengakui hak gay, lesbian dan trangender. Namun masih banyak praktik diskriminasi oleh masyarakat dan pemerintah akibat minimnya perlindungan yang diberikan oleh konstitusi. Secara umum, partai-partai politik Turki sepakat melindungi hak kaum LGBT dari diskriminasi.

  1. Mali

Mali merupakan negara Afrika yang melegalkan LGBT. Hal ini terjadi lantaran kostitusi Mali tidak secara eksplisit melarang aktivitas homoseksual. Namun hampir 90% penduduk percaya bahwa gay dan lesbian merupakan gaya hidup yang harus diperangi sehingga praktik diskriminasi kaum LGBT banyak terjadi.

  1. Yordania

Hubungan sesama jenis dilegalkan tahun 1951 di Yordania. Pemerintah bahkan mentolerir munculnya café dan tempat hiburan yang dikelola oleh kaum LGBT. Tak heran jika Yordania disebut sebagai negara yang paling maju dalam mengakomodir hak-hak LGBT dalam konstitusi.

  1. Albania

Meskipun mayoritas penduduk negara ini Muslim, Albania telah memiliki sederet undang-undang yang melindungi gay dan lesbian dari praktik diskriminasi.

  1. Bahrain

Pelegalan hubungan sesama jenis berlangsung sejak 1976. Meski demikian, Bahrain tetap melarang lintas busana di ruang-ruang publik.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia pun tak luput dari fenomena ini. baru-baru ini Indonesia digegerkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengaku tidak melarang LGBT di Indonesia. MK menolak adanya kriminalisasi LGBT dan hubungan di luar nikah. Putusan tersebut dinilai mengindikasikan perubahan yang moderat pada tatanan hukum Indonesia.

Menurut Mahfud MD selaku mantan ketua MK, putusan MK bukanlah untuk membolehkan atau melarang kumpul kebo, LGBT atau praktik zina lainnya. Menurutnya, MK hanya menolak untuk memberikan tafsir atas aturan yang terdapat dalam Kitab Hukum Undang-undang Pidana (KUHP).

Aliansi Cinta Keluarga (AILA) selaku pemohon uji materi dalam sidang pada Kamis (14/12/2017) meminta pengujian materi tiga pasal KUHP kepada MK. Tiga pasal tersebut adalah:

Pasal 284 tentang perzinahan, yang tadinya terbatas dalam kaitan pernikahan dimohonkan untuk diperluas ke konteks di luar pernikahan.

Pasal 285 tentang perkosaan, yang tadinya terbatas laki-laki terhadap perempuan, dimintakan untuk diperluas ke laki-laki ke laki-laki ataupun perempuan ke laki-laki.

Pasal 292 tentang percabulan anak, yang asalnya sesama jenis laki-laki dewasa terhadap yang belum dewasa dimintakan untuk dihilangkan batasan umurnya.

Dalam putusan yang dibacakan Kamis (14/12/2017), dinyatakan bahwa MK tidak memiliki kewenangan membuat aturan baru. MK juga menyatakan bahwa pasal-pasal KUHP yang dimohonkan untuk diuji materi tidak bertentangan dengan konstitusi.

Lantas apa kata Presiden Jokowi terkait fenomena LGBT di Indonesia?

Tidak ada diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia, dan jika ada yang terancam karena seksualitasnya, polisi harus bertindak melindungi mereka, kata Presiden Joko Widodo kepada wartawan BBC dalam sesi wawancara eksklusif di Solo.

Presiden mengatakan bahwa Indonesia menghormati hak asasi manusia namun ada norma sosial yang juga masih sangat kuat.

Ia juga menambahkan bahwa di Indonesia tidak ada diskriminasi untuk minoritas, baik yang terkait dengan etnis, agama, semuanya akan diberikan perlindungan. Tapi perlu diingat bahwa Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia yang mempunyai norma-norma agama.

Kendati demikian, presidenn mengaku tidak bisa melarang atau membubarkan kelompok intoleran yang sering terlibat dalam tindakan intoleransi terhadap kalangan lain melalui demonstrasi.

“Indonesia ini negara demokrasi, siapapun bisa melakukan demonstrasi, siapapun bisa melakukan protes. Yang penting demonya tidak anarkis, tidak rusuh dan tertib”.

 

Nah, itu tadi overview tentang LGBT di mata dunia. Tulisan selanjutnya, saya ingin mengusung topik mengenai pandangan umum LGBT di Indonesia: didukung atau ditolak?

Bagaimana pun pandangan Anda tentang LGBT, semua itu sah-sah saja kok selama tidak mencederai opini orang lain 😊

Share this post

Post Comment