How to trip from Solo to Bontang

How to trip from Solo to Bontang

Hai semua… tulisan saya kali ini akan tampak sangat berbeda (jika Anda mengikuti artikel-artikel yang saya tulis sebelumnya hihi). Karena kali ini saya bercerita tentang pengalaman pribadi yang baru-baru ini saya alami. TARAAAA…. yaitu perjalanan ke Bontang, Kalimantan Timur.

Pengalaman ini saya dapatkan saat di bangku perkuliahan:

2 kali berkunjung ke tanah Borneo pada tahun 2015 ke Pontianak, Kalimantan Barat dan 2017 ke Bontang, Kalimantan Timur.

Dua-duanya akan saya ceritakan di edisi kali ini.
Saya asli keturunan suku Jawa. Namun saya bertekad ingin mengunjungi sebanyak-banyaknya tempat, bertemu sebanyak-sebanyaknya orang dan menggali sebanyak-banyaknya pengalaman.

Saya tinggal di Jawa sedari lahir hingga usia 15 tahun, lalu saya menetap di Batam, Kepualauan Riau akibat ikut orang tua yang bekerja disana hingga lulus SMA. Kemudian saya memutuskan untuk kuliah di Jawa lagi dan nasib telah membawa saya ke Surakarta, Jawa Tengah.

Liku perjalanan hidup yang demikian saya nikmati dengan suka cita. Saya mendapatkan banyak pengalaman terutama untuk mutual understanding antar suku. Bahkan saya sangat bersyukur akan hal itu. Meski terkadang saya merindukan masa-masa kecil sih hehe. Tapi yasudahlah. Jika tidak demikian saya tidak akan mendapatka pengalaman bagaimana berinteraksi dengan berbagai suku bangsa. Saya memiliki kesempatan berkomunikasi bahkan berteman dengan orang Melayu, Padang, Batak dan Tionghoa mengingat Batam telah menjadi salah satu tujuan urbanisasi favorit dengan keragaman suku dan budaya. Tidak hanya itu, bahkan saya juga bisa berkomunikasi dengan turis asing lhooo hehe btw di Batam banyak turis dari Singapura, Filipina, dan turis dari beberapa negara di eropa.

Okaaayy, saatnya kembali ke topik utama: Bontang.

Perjalanan saya ke Bontang terbilang cukup melelahkan. Saya dan rekan saya bertandang kesana untuk magang di perusahaan pupuk terbesar di Indonesia, yap Pupuk Kaltim. Kami memulai perjalanan dari kos (Solo) menuju stasiun Purwosari (Solo) pada pkl. 4.00 WIB hari Senin, 16 Oktober 2017. Kemudian kami memesan tiket kereta api PRAMEKS jurusan solo-jogja yang dijadwalkan berangkat pada pkl.05.17 WIB.
Kami sampai di Jogja kurang lebih jam 6 pagi. Jika Anda bermaksud ke Bandara Adi Sucipto, Anda bisa turun di Stasiun Maguwoharjo. Setibanya di stasiun Maguwo, saya dan rekan saya berjalan sebentar menuju Bandara Adi Sucipto. Masing-masing dari kami membawa satu buah ransel dan satu buah koper. Keluar dari stasiun, kami belok kanan memasuki bandara bagian pemberangkatan (departure). Kami sarapan roti dan check in sekitar jam 7. Penerbangan kami dijadwalkan pkl.08.35 WIB. Namun karena ada air show, semacam pertunjukkan pesawat dan padatnya lalu lintas udara baik pesawat yang berangkat dan dating, penerbangan kami sempat ter-delay sekitar 3 jam. Barulah kami berangkat sekitar jam 1 siang.

Penerbangan kami ditempuh dalam waktu 1,5 jam dan sampai di Bandara Internasional Sepinggan pada pkl.15.30 WITA. Kami mampir untuk sholat dan mencari jasa travel untuk mengantar ke Bontang. Travel kami berangkat pada pkl.16.00 WITA dan ditumpangi dengan 5 orang plus 1 driver. Dengan biaya 700rb untuk 1 mobil avanza, kami diantar mengarungi perjalanan panjang dari bandara Balikpapan menuju Bontang yang menelan waktu hingga 8 jam (bisa juga 6-7 jam, tergantung medan dan driver). Disamping karena jarak yang memang jauh, rombongan kami sempat berhenti 2 kali untuk makan dan istirahat. Kami melewati Kota Samarinda yang merupakan ibu kota Provinsi Kaltim dengan segala kemegahan dan kemewahannya. Apa yang saya pikirkan ternyata tidak sepenuhnya benar. Ya, kami memang melewati hutan beberapa kali selama perjalanan itu, namun ternyata terdapat keramaian kota layaknya kota-kota besar lain yang dapat ditemukan disini, di pusatnya. Bahkan kami juga melewati sungai Musi dan Islamic Centre Samarinda.

Dokumentasi Pribadi

Kami sampai di Mess Petrosea Pupuk Kaltim pada pkl.00.15 WITA (Selasa, 17 Oktober 2017). Mess Petrosea mempunyai beberapa wisma. Ada wisma ammonia, urea, oxygen dan nitrogen. Driver kami membawa kami di sisi wisma nitrogen, wisma yang diperuntukkan laki-laki. Kami sudah mengontak pegawai yang bertugas untuk mengarahkan kami kamar mana yang akan kami tempati namun tidak ada respon. Terpaksa, kami mengungsi di mess nitrogen untuk satu malam. Kami menempati kamar kosong di mess itu berlima cewek semua. Fyi, jika Anda magang di Pupuk Kaltim (PKT) dan Anda bukanlah orang Bontang, maka Anda akan diberikan mess untuk ditinggali selama periode magang (biasanya 2 bulan).

Dokumentasi Pribadi

Kami baru berjumpa dengan Petugas tersebut pagi harinya dan diberi kunci kamar di wisma ammonia, wisma perempuan. Satu kamar diisi oleh 2 orang. Untuk satu kamar di wisma ammonia memiliki dua single spring bed, satu kulkas, satu AC dan satu set meja kursi. Setiap satu barak (wisma) memiliki 4 kamar mandi yang dipakai bersama, ruang tv bersama dan mesin cuci yang juga dipakai bersama. Wisma juga dilengkapi dengan dapur umum bersama, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.

Fasilitas yang tersedia di mess terbilang lengkap dan cukup memuaskan. Namun yang menjadi kendala adalah kenyataan bahwa lokasi mess Petrosea berada di tengah-tengah area pabrik yang jauh dari perkampungan/rumah penduduk sehingga kami kesulitan untuk akses ke pasar dan tempat umum lain. Bahkan untuk sekedar membeli makan, kami harus berjalan cukup jauh dari mess. Untuk menyiasati hal itu, kami memasak di dapur umum yang tersedia di mess dan belanja bahan mentah setidaknya seminggu sekali untuk stok. Ada beberapa pekerja yang memang ditempatkan di mess untuk membersihkan area pekarangan mess (biasanya sih mas-mas atau bapak-bapak). Kami pun meminjam motor mereka untuk berbelanja hihihi

Meskipun tersedia bis untuk mengantar-jemput mess menuju plan (pabrik), namun untuk keperluan pribadi Anda harus bisa berjuang sendiri mau naik apa. Sebenarnya jika mau Anda bisa menyewa motor disini dengan harga 400-500rb per bulan, pintar-pintar nawar sih hehe. Kami juga berencana akan menyewanya untuk mempermudah transportasi kami.

Nah, itulah sekilas cerita mengenai perjalanan saya di Bontang. Jika Anda berniat untuk magang di PKT, saya sarankan untuk mencari penerbangan yang lebih pagi, jam 7 misalnya. Hal ini penting diperhatikan untuk menyiasati jam berapa Anda sampai di Petrosea agar bisa bertemu dengan petugasnya.

Share this post

0 thoughts on “How to trip from Solo to Bontang

Post Comment