PENDIDIKAN DAN PEREMPUAN: #1 HAMBATAN

PENDIDIKAN DAN PEREMPUAN: #1 HAMBATAN

Iklan Premium

Kesetaraan pendidikan sudah diperjuangkan oleh RA Kartini dengan istilah emansipasi wanita. Dahulu kala, pendidikan menjadi suatu kelangkaan yang tercipta akibat sistem kasta yang dibuat penjajah. Sekolah-sekolah pun dimasukkan dalam golongan-golongan berdasarkan tolak ukur kedudukan sosial keluarga siswa tersebut. Bahkan akses pendidikan dahulu untuk pribumi hanya diperuntukkan oleh pejabat pemerintahan, sisanya hanya mengekor kyai di surau-surau dan belajar dalam keterbatasan.

Apa yang diperjuangkan RA Kartini berbuah manis. Kendati Ia tidak sempat menyaksikannya, namun perjuangan itu cukup berdampak. Sekolah-sekolah yang asalnya lebih diperuntukkan lelaki, mulai terbuka untuk perempuan. Perempuan yang semula hanya dibatasi di lingkup keluarga dan mengurus pekerjaan rumah, mulai memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri keinginannya dan melakukan apa yang benar-benar mereka inginkan.

(Sumber: kompasiana.com)

Kita sudah bersepakat bahwa pendidikan itu penting. Namun realita yang saya lihat bahwa masih banyak masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di pedesaan menganggap perempuan yang bisa menempuh pendidikan sampai SMA saja sudah bagus. Tidak jarang anak gadis yang tidak menyelesaikan SMA dengan alasan menikah. Bahkan ini juga terjadi pada mereka yang putus sekolah di jenjang SMP.

Istilah nikah muda masih menjadi stigma kuat di benak sebagian masyarakat. Mereka berdalih bahwa toh pada akhirnya wanita tetap berkodrat untuk mengurus suami dan anak, jadi mengapa harus sekolah tinggi-tinggi jika hanya berakhir seperti itu? Sebenarnya sedih banget sih dengar pernyataan yang seperti ini: pernyataan yang membunuh impian wanita manapun yang mendegarnya.

Mengapa saya katakan demikian? Karena bagi saya impian adalah sesuatu yang ingin diperjuangkan, sesuatu yang memberikan kekuatan bagi pemiliknya untuk belajar tanpa henti, sesuatu yang membuat kehidupan bernyawa. Memiliki impian sangat penting. Ibaratnya jika hanya hidup, babi hutan juga hidup. Jika hanya makan, monyet juga makan.

(Sumber: nu.or.id)

Alasan mendasar munculnya stigma negatif seperti itu bisa dimotori oleh beberapa hal:

  1. Kurangnya edukasi dan pengetahuan yang diperoleh

Pandangan sebelah mata perempuan dalam kondisi sosial masyarakat pada dasarnya disebabkan oleh kurangnya edukasi yang diterima oleh masyarakat itu sendiri. Pandangan ini tentu berbeda antara masyarakat yang tinggal di negara maju dan negara berkembang, serta di warga yang tinggal di pedesaan dan perkotaan. Mereka yang memiliki sudut pandang ini biasanya juga memiliki pendidikan yang rendah. Mereka tidak benar-benar memahami manfaat pendidikan tinggi akibat kualitas pendidikan yang mereka peroleh relatif rendah. Hal ini tentu akan berbeda jika masyarakat tersebut memiliki pendidikan tinggi dengan kualitas yan tinggi.

  1. Keterbatasan ekonomi

    (Sumber: blog.act.id)

Akses pendidikan di Indonesia masih terbilang mahal. Harga pendaftaran sekolah setiap tahunnya naik dengan persentase yang cukup besar. Begitu pula kenaikan dengan kebutuhan lainnya. Kenaikan-kenaikan itu tidak dibarengi dengan kenaikan dari sektor pendapatan. Bahkan lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi angkatan kerja produktif sehingga pengangguran mulai menjamur dimana-mana. Masyarakat dengan pendapatan rendah masih merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer seperti sandang, makan dan papan. Sebagian dari mereka juga rela hidup di lahan-lahan terbuka milik pemerintah seperti dekat jembatan, kali maupun stasiun kereta api. Miris sekali. Kebutuhan-kebutuhan primer saja sulit terpenuhi apalagi mau menyekolahkan anak-anaknya, tentu terasa lebih sulit lagi. Kenyataan bahwa pemerintah masih mengutamakan sektor-sektor pembangunan infrastruktur tidak bisa diandalkan dan digantungi harapan besar bidang pendidikan.

  1. Hambatan Kebudayaan

Indonesia memiliki berbagai suku bangsa. Dalam suku itu, mereka hidup dan mengadopsi nilai-nilai baik yang dimiliki leluhur. Sebagian masih hidup dalam ketertutupan akibat kekhawatiran yang berlebihan nilai baru akan berseberangan dengan nilai lama. Sebagian lainnya bersedia untuk cukup terbuka dengan pengaruh luar yang dipandang baik. Identitas mereka dalam strata suku itu dianggap cukup penting karena berkaitan dengan kedudukan dan sumbangsih yang mereka berikan dalam masyarakat. Semua sikap yang tercipta memiliki alasan masing-masing. Harapan saya apapun alasan yang ada tidak menghambat perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Harus ada kompromi di semua sisi, karena kita menyadari bahwa tanpa kompromi perbedaan nilai-nilai yang ada akan bergesekan semakin keras dan menyakiti satu sama lain.

Keterbukaan mutlak diperlukan untuk memperoleh akses untuk segala bentuk informasi, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebagai negara berkembang, bangsa kita perlu belajar perihal teknologi dan ilmu pengetahuan yang lebih mapan dari negara maju. Kita bisa belajar infrastruktur dari Jepang, teknologi dari Korea Selatan dan China.

Itulah faktor-faktor penghambat akses pendidikan bagi wanita. Itu hanya dari sudut pandang saya. Di luar itu tentu masih banyak faktor-faktor lain yang menghambat mereka. Kita memang tidak bisa mengingkari kodrat wanita sebagai ibu dan sebagai isteri. Namun untuk dapat menjalankan kedua peran itu dengan baik, dibutuhkan keahlian, pengetahuan dan pengalaman yang luas. Terutama pengalaman-pengalaman yang kita peroleh selama proses pendidikan itu ada banyak hal baru yang kita dapatkan. Tak hanya tentang pendidikan itu saja, namun juga soft skill yang dapat mengubah kepribadian dan sudut pandang kita.


Iklan Premium

Share this post

Post Comment