SALAH JURUSAN SAAT KULIAH? INILAH JAWABANNYA!

SALAH JURUSAN SAAT KULIAH? INILAH JAWABANNYA!

Seorang mahasiswa yang digadang-gadang menjadi harapan bangsa memiliki tanggungjawab yang besar akan masa depan negeri ini. Namun kurikulum pendidikan yang dirancang di Indonesia yang terbukti memiliki mata pelajaran yang lebih banyak dibanding negara lain menyebabkan kita sebagai pelajar sulit mendeteksi bidang apa yang benar-benar ingin kita geluti nanti di masa depan. Sehingga banyak dari kita yang memilih jurusan perkuliahan berdasarkan trend pekerjaan yang terlihat menguntungkan dengan gaji besar tanpa menyadari apakah bidang itu benar-benar kita sukai. Pada pertengahan jalan kita baru menyadari bahwa telah “salah” dalam memilih jurusan itu.

Sumber: flickr.com

Inilah yang saya alami saat kuliah di kota budaya Solo. Berawal dari kesukaan saya dengan pelajaran kimia, saya memutuskan untuk menggelutinya dan meneruskan keseriusan saya di bidang ini. Sewaktu kecil saya memandang pekerjaan guru sebagai pekerjaan yang mulia. Jadi saya memiliki keinginan untuk menguasai dan menularkannya pada anak didik kelak. Meskipun guru PNS mempunyai seleksi yang ketat, sepertinya sepadan dengan tunjangannya yang besar.

Di penghujung SMA, saya memutuskan untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi dengan memilih jurusan FKIP Kimia. Saya pun mulai ekspedisi ke berbagai kampus yang memiliki jurusan itu dengan akreditasi setidaknya B baik untuk jurusan dan univ. Akreditasi menjadi salah satu concern saya sebab ini berkaitan dengan aksesibilitas kita di dunia kerja nanti. Meskipun skill yang paling dibutuhkan, kita tidak bisa memungkiri bahwa akreditasi juga akan menjadi bahan pertimbangan penting sebab melalui akreditasilah mutu proses belajar-mengajar (PBM) terjamin.

Setelah melalui pergolakan yang panjang, akhirnya rezeki saya jatuh pada Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Memang awalnya saya mengejar Perguruan Tinggi Negeri (PTN), namun sudah menjadi rahasia umum bahwa persaingan mendapatkan kursi di PTN relatif sulit. Saya memang tidak mengerti dan jujur tidak memiliki gambaran sama sekali tentang jurusan ini. Saya hanya berpikir it’s okay karena ada embel-embelnya “kimia”. Well, pikiran anak lulusan SMA 18 tahun yang kala itu as simple as it.

(Sumber: www.lifevestinside.com)

Dan TARA….. Apa yang saya bayangkan sangaaaattt jauh dari realita. Apa yang saya pelajari di jurusan Teknik Kimia sangat berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Memang ada embel-embel “kimia”-nya, namun ternyata dominasi Teknik Kimia terletak pada ke-teknik-annya, yaitu ilmu fisika dan matematikanya. Teknik kimia mempelajari mengenai proses, bagaimana suatu industri mampu memproduksi suatu barang dalam jumlah banyak (mass production) dengan kualitas yang serupa. Ini dapat dicapai dengan penggunakan mesin-mesin canggih. Namun secanggih-canggihnya mesin, tetap membutuhnya manusia untuk mengatur segala hal berkaitan dengan instrumentasi. Mesin-mesin berukuran besar itu tentu membutuhkan manusia untuk mengontrolnya. Jadi kita harus bisa membuat suatu algoritma pemrograman yang bisa mengatasinya. Kurang lebih seperti itulah gambaran bidang kerja Teknik Kimia.

Kejadian seperti ini banyak dialami oleh teman-teman saya. Bahkan hampir seluruhnya merasa begitu, salah jurusan. Pun saya. Sebagian memutuskan berhenti setelah satu atau dua semester, pindah jurusan atau pindah kampus. Saya juga sempat berpikir serupa. Namun entah mengapa saat itu hati saya tergerak untuk menjalaninya saja. Ada beberapa pertimbangan yang membuat saya bertahan hingga saat ini. Apa saja itu?

  1. Rasa Syukur

    (Sumber: educationusa.state.gov)

Saya sadar betul bahwa meskipun saya merasa “salah jurusan”, saya telah melalui serangkaian perjalanan panjang. Banyak hal yang saya korbankan untuk sampai di titik ini. Saya harus merantau, meninggalkan semua kenyamanan yang saya dapatkan saat tinggal di rumah. Saya menyusuri beberapa kota seperti Surabaya, Malang dan Semarang hingga Solo memilih saya. Banyak tenaga yang telah saya keluarkan, pun uang yang telah amblas untuk membiayainya. Waktu yang telah saya habiskan untuk memperoleh pendidikan di perguruan tinggi akan sia-sia pada akhirnya jika saya menyerah. Saya sadar betul bahwa tidak semua orang bisa menikmati pendidikan kampus yang “mewah” ini. Bahkan beberapa teman saya mengaku sangat ingin kuliah, namun karena keterbatasan biaya memutuskan untuk memendamnya saja, mengubur keinginan itu dalam-dalam. Jadi saya memilih bertahan. Saya menjadi perasaan “salah jurusan” ini menjadi suatu tantangan yang harus saya taklukkan. Saya diberi fisik yang kuat, orang tua yang mendukung saya dan Allah tempat untuk meminta pertolongan. Semuanya akan menjadi kesia-siaan belaka jika saya menyerah. Orang tua saya pasti kecewa berat jika itu terjadi, bahkan diri saya sendiri juga akan kecewa. Karena bagi saya menyerah akan membuat saya terlihat menyedihkan seperti seorang pecundang.

  1. Tidak Ada Kesia-siaan

    (Sumber: flickr.com)

Teknik Kimia membutuhkan ilmu fisika dan matematika (khususnya algoritma) yang kuat. Dan saya sadar di keduanya, saya lemah. Tapi sudah saya katakan bahwa ini adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Saya akan belajar. saya percaya selama kita memiliki keinginan yang kuat dan usaha yang gigih, maka semesta akan melihat dan berpihak membantu kita. Saya yakin apa yang saya upayakan sekarang tidak akan pernah sia-sia. Toh boleh jadi karir kita di dunia kerja nanti akan sangat berbeda dengan latar belakang pendidikan ‘kan? Ini yang banyak terjadi dan dialami oleh sebagian besar orang. Mereka bekerja berdasarkan “permintaan” dunia kerja, bukan “penawaran” berupa jenis jurusan Anda.

Nah, kedua prinsip itulah yang saya pegang hingga kini. Dan alhamdulillah, apa yang saya usahakan selalu berbuah manis. Nilai perkuliahan saya aman selama saya mau belajar dan memperhatikan dosen. Saya memiliki banyak kenalan karena beberapa organisasi yang saya ikuti. Saya dekat dengan beberapa sahabat yang saya kagumi karakter dan cerita hidup mereka. Setiap orang pasti memiliki tujuan hidup. Pesan saya jangan hanya berfokus pada tujuan Anda, tapi nikmati jugalah perjalanannya. Anda bisa saja berbelok di persimpangan jalan, bukan karena Anda menyerah. Tapi karena Anda melihat adanya peluang yang lebih baik daripada tujuan awal. Dan itu bisa terjadi jika Anda melihat proses secara menyeluruh, bukan parsial. Juga atas bantuan pribadi-pribadi baik yang menularkan semangat dan nilai-nilai positif. Selamat berjuang!

 


Iklan Premium

Share this post

Post Comment