PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK

 

Pendidikan karakter memang tidak terdengar asing. Pasalnya Pendidikan karakter juga termasuk dalam fokus bidang garap era presiden Soekarno. Apa sebenarnya Pendidikan karakter itu? Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Pendidikan karakter diharapkan dapat menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter. Namun kondisi Indonesia yang saat itu masih bergejolak dan belum stabil di banyak sektor membuat program itu belum sukses sebab Pendidikan karakter memerlukan situasi kondusif, sesuatu yang saat itu belum kita punya.

Krisis moral banyak terjadi dan memang sedang melanda Indonesia sehingga moral atau character education dalam hal ini dianggap sangat relevan saat itu untuk mengatasinya. Krisis moral dapat berupa meningkatnya pergaulan bebas, banyaknya kasus kekerasan dan bullying yang terjadi pada anak-anak dan remaja, pencurian atau pemalakan remaja, kebiasaan menyontek, pornografi, penyalahgunaan obat-obat terlarang dan minuman keras serta kejahatan dalam bentuk lain yang dilakukan anak-anak atau remaja. Sepintas memang terlihat sepele namun jika dibiarkan dapat menimbulkan permasalahan sosial yang sangat berdampak terhadap masyarakat. Inilah yang saat ini coba diusung kembali oleh presiden Joko Widodo sebab krisis moral merupakan akar dari masalah sosial yang belum tertuntaskan hingga saat ini.

Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Pendidikan karakter telah menjadi perhatian di berbagai negara sebagai upaya mempersiapkan generasi yang berkualitas. Berbicara mengenai generasi, artinya Pendidikan karakter tidak hanya untuk kepentingan individu tapi lebih luas yaitu negara dan masyarakat itu sendiri. Generasi-generasi inilah yang kelak akan menjalankan roda pemerintahan, melakukan riset dan penemuan-penemuan, mengembangkan teknologi dan terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial. Jadi bisa dikatakan masa depan suatu negara bergantung pada generasi muda.

Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan spiritual yang ideal. Foerster seorang ilmuan pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau individu serta karakter pun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam mengambil sikap di setiap situasi. Pendidikan karakter pun dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu membentuk identitas yang kokoh dari setiap individu dalam hal ini dapat dilihat bahwa tujuan pendidikan karakter ialah untuk membentuk sikap yang dapat membawa kita kearah kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku. Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang patut dimiliki setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang bermanfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Pada dasarnya pendidikan karakter berfungsi untuk:

  1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik
  2. memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
  3. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, dan Tanggung jawab. Lantas bagaimana untuk menjalankan Pendidikan karakter untuk memastikan hal ini berhasil? Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan Pendidikan ini tercapai. Metode khusus yang dimaksud tidak hanya sebatas teori-teori di bangku Pendidikan. Kendati teori-teori itu juga penting, namun penekanan dari Pendidikan karakter terletak pada implementasi atau penerapan. Pengimplementasian itu dapat dihasilkan dari akumulasi kebiasaan yang dilakukan dalam keseharian. Kebiasaan ini tercipta akibat hasil dari penglihatan baik dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang terangkum dalam memori. Karena pada dasarnya kebiasaan yang bersentuhan secara langsung dalam kehidupan akan menular lebih cepat.

Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat penting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekayasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi:

  1. Keteladanan
  2. Intervensi
  3. Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten
  4. Penguatan.

Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.

Lingkungan keluarga merupakan faktor paling penting dalam menanamkan Pendidikan karakter pada anak, selain Pendidikan karakter di sekolah dan lingkungan sosial. Lingkungan keluarga dalam hal ini dengan memperhatikan situasi keluarga dan pola Pendidikan yang diterapkan. Saat pola Pendidikan karakter keluarga terbangun dengan baik, maka anak akan lebih mudah menerima dan mengikuti Pendidikan karakter di sekolah. Hal ini juga berlaku untuk singgungan pada lingkungan sosial.

Irma Rahayu selaku praktisi soul healer dan Pendidikan karakter dalam diskusi ‘Karakter dan Jatidiri Bangsa dalam Pembangunan Kebudayaan’, yang digelar Kelompok Diskusi (Poksi) Komisi X FPKS DPR RI mengatakan “Sebab persoalan yang sekarang jamak terjadi saat ini banyak orang tua yang stres dan depresi akibat persoalan hidup yang kompleks. Pada situasi ini bagaimana mungkin orang tua mampu memberikan pendidikan karakter yang dibutuhkan”.

Irma mengatakan, untuk menanamkan pendidikan karakter yang baik dari keluarga perlu dilihat dulu kondisi orang tua. Yang paling penting menurutnya, membuang depresi kedua orang tua di tengah persoalan hidup yang kian kompleks. Sayangnya, kata Irma, yang terjadi sekarang ini orang tua sering mengabaikan dan menyerahkan pendidikan karakter anak kepada sekolah. Persoalan baru pun muncul saat para pengajar (guru) yang harusnya bisa memberikan pendidikan karakter ini juga sudah membawa stres dari rumahnya.

Ditambah dengan lingkungan sosial si anak yang kurang mendukung, jadilah masalah pendidikan karakter ini mandeg. “Kalau sudah kompleks tidak ada yang mau disalahkan dalam kegagalan menanamkan pendidikan karakter ini,” tambahnya.
Anggota Komisi X, Soenmandjaja Roekmandis menambahkan, kegagalan keluarga dalam menanamkan pendidikan karakter memang bisa dimulai dari hal yang kecil di tengah keluarga.

Ia mencontohkan, bagaimana orang tua menyuruh anak rajin ke masjid tetapi orang tuanya sendiri juga jarang melakukannya. “Atau orang tua yang memperingatkan anaknya untuk tidak merokok tapi dilakukan orang tua sambil merokok,” ungkap Roekmandis.

Kendati lingkungan keluarga memegang peranan penting dalam Pendidikan karakter, namun pada dasarnya ini merupakan tanggungjawab bersama. Artinya kita harus bahu-membahu untuk mencapai tujuan dari Pendidikan karakter, menyelesaikan permasalahan sosial dan membangun masa depan bangsa yang lebih baik. Pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.


Iklan Premium

Share this post

Post Comment