MENGUAK MITOS PENDIDIKAN #2: MENGAPA HARUS MELEK FINANSIAL?

MENGUAK MITOS PENDIDIKAN #2: MENGAPA HARUS MELEK FINANSIAL?

Melek finansial berarti kemampuan untuk membaca dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan masalah finansial atau keuangan. Kemampuan melek finansial penting untuk dimiliki setiap individu sebab sekarang kita hidup di zaman dengan perubahan yang lebih besar dan lebih cepat. Dikisahkan dalam buku Robert Kiyosaki berjudul “Rich Dad, Poor Dad” bahwa pada tahun 1932 sekelompok pemimpin yang paling hebat dan usahawan terkaya mengadakan sebuah pertemuan di Hotel Edgewater Beach di Chicago. Diantar mereka tampak hadir Charles Schwab, pimpinan perusahaan baja terbesar; Samuel Insull, presiden perusahaan jasa public terbesar di duni; Howard Hopson, pimpinan perusahaan gas terbesar; Ivan Kreuger, presiden International Match Co., salah satu perusahaan terbesar di dunia pada waktu itu; Leon Frazier, presiden Bank of International Settlements; Richard Whitney, presiden New York Stock Exchange; Arthur Cotton dan Jesse Livermore, dua spekulator saham terbesa; dan Albert Fall, anggota cabinet Presiden Harding. Dua puluh lima tahun kemudian, Sembilan dari mereka yang tercantum di atas nasibnya berakhir seperti berikut. Schwab meninggal tanpa uang sepeser pun setelah hidup selama lima tahun dengan uang pinjaman. Insull meninggal tanpa uang di tanah asing. Kreuger dan Cotton juga meninggal tanpa uang. Hopson menjadi gila. Whitney dan Albert Fall baru saja dilepaskan dari penjara. Fraser dan Livermore mati bunuh diri.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab kebanyakan orang saat ini menaruh terlalu besar perhatian mereka pada uang dan bukan pada harta mereka yang terpenting, yaitu Pendidikan mereka. Robert Kiyosaki menduga bahwa dalam 25 tahun mendatang yang kira-kira setara dengan kebangkitan dan keruntuhan yang dialami ereka aka nada banyak ledakan dan kehancuran. Jika individu disiapkan untuk lebih bersikap fleksibel, berpikiran terbuka dan terus belajar, mereka akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan itu. Saya rasa asumsi bahwa kita mengira bahwa uang dapat memecahkan masalah itu salah. Sebab memiliki uang banyak tanpa memilik kecerdasan finansial akan membuat uang itu cepat habis.

Izinkan saya memberikan sedikit gambaran keuangan pasangan muda yang baru saja menikah. Pasangan muda ini menyadari bahwa mereka membutuhkan rumah impian yang lebih besar dan nyaman serta memiliki beberapa anak. Mereka dapat bekerja dengan dua penghasilan dan hidup selayaknya satu orang dalam satu hunian yang sama. Untuk memenuhi keinginannya, maka mereka mulai berfokus pada karir masing-masing. Uang lembur, kenaikan gaji dan promosi tampak menggembirakan dan pemasukan mereka pun meningkat.

Sayangnya, ketika pemasukan mereka naik, pengeluaran mereka juga naik terus. Pengeluaran ini berasal dari pajak penghasilan, pajak jaminan sosial plus pengeluaran dari kebutuhan sehari-hari. Pemotongan-pemotongan pajak ini dilakukan melalui pemotongan gaji karyawan oleh perusahaan sebelum Anda menerimanya. Artinya uang yang Anda terima tidak 100% karena dikurangi dengan pajak ini-itu.

Pasangan muda memutuskan untuk pindah dan membeli rumah baru sebab adanya kenaikan gaji. Saat pindah, ada pajak jenis baru yang harus dibayar, yaitu pajak properti atau yang sering disebut sebagai pajak bumi dan bangunan (PBB). Lalu mereka juga membeli kendaraan seperti mobil, furnitur, dan peralatan lainnya dalam sekejap mereka penuh dengan utang kredit.

Lalu mereka terjebak dalam perlombaan tikus. Mereka kemudian memiliki anak dan bekerja lebih keras lagi. Proses ini berulang untuk anak kedua dan selanjutnya. Mereka membutuhkan uang lebih banyak dan membayar pajak lebih besar. Mereka sadar mereka memiliki kartu kredit dan mereka pun menggunakannya. Kredit pun melewati batas. Perusahaan peminjaman menelepon dan mengatakan bahwa “asset” terbesar mereka yaitu rumah telah ditaksir nilainya. Perusahaan itu menawarkan untuk menutup utang-utang kartu kredit melalui hipotek rumah. Nilai yang harus mereka cicil turun karena diperpanjang sampai 30 tahun lebih. Ini bisa disebut sebagai solusi cerdik jangka pendek namun berbahaya.

Banyak pasangan muda yang memiliki permasalahan finansial yang mirip dan bertanya-tanya bagaimana untuk menghasilkan uang lebih banyak. Ada yang memutuskan untuk bekerja lebih keras, mengambil lembur, mencari part time atau kerja sambilan untuk menutupi permasalahan itu. Permasalahan yang sebenarnya adalah bagaimana membelanjakan uang yang mereka miliki dengan tepat. Itulah penyebab sebenarnya pergumulan finansial mereka. Ini terjadi sebab kebutaan finansial dan ketidakpahamannya mengenai asset dan liabilitas (asset dan liabilitas akan saya bahas pada artikel berikutnya).

Orang miskin dan kelas menengah hampir selalu membiarkan kekuatan uang menguasai mereka. Mereka bangun setiap pagi, bekerja lebih keras tanpa pernah bertanya apakah yang mereka lakukan setiap hari itu masuk akal. Kebanyakan orang menyetujui dan mengikuti arus massa, mereka melakukan sesuatu karena semua orang melakukannya. Banyak masalah keuangan disebabkan oleh “mengikuti arus”. Terkadang, kita membutuhkan cermin dan jujur pada diri sendiri ketimbang hanya bergumul pada rasa takut. Takut mengambil resiko, takut membuat kesalahan, takut membuat variasi, takut dianggap berbeda dan diasingkan oleh komunitas membuat orang cenderung menyesuaikan diri tanpa mempertanyakan pendapat yang diterima atau trend yang populer.

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa yang terpenting bukanlah seberapa banyak uang yang dihasilkan, melainkan seberapa banyak uang yang bisa Anda simpan. Ada banyak sekali kisah dimana orang miskin yang menang undian tiba-tiba kaya dan tak lama kemudian jatuh miskin lagi. Atau kisah tentang para atlet professional yang berpenghasilan jutaan dolar per tahun saat berumur 24 tahun namun tidur di kolong jembatan sepuluh tahun kemudian. Uang yang lebih banyak tak selalu bisa menyelesaikan masalah finansial. Yang bisa memecahkannya adalah intelegensi.

 


Iklan Premium

Share this post

Post Comment