MENGUAK MITOS PENDIDIKAN #1: PERMAINAN TIKUS

MENGUAK MITOS PENDIDIKAN #1: PERMAINAN TIKUS

Several rules before read this:

  1. Be open-minded
  2. It’s based on my perspective, perspective is about relativity
  3. The core matter inside is mostly took from the book of Robert Kiyosaki with title “Rich Dad, Poor Dad”

 

“Belajarlah dengan giat, raih nilai yang tinggi dan kamu akan mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi dengan tunjangan yang besar pula”, inilah nasihat yang diberikan orang tua kebanyakan kepada anak-anaknya, yang sampai saat kini masih terdengar santer. Namun kenyataannya apa yang diajarkan di sekolah pada akhirnya tidak akan diimplementasikan secara menyeluruh dalam kehidupan. Misalnya pembelajaran mengenai kewarganegaraan. Saya yakin sudah banyak yang tahu arti patriotisme, akan tetapi melihat sebagian besar praktik di lapangan yang buruk boleh dikatakan itu hanyalah konsep belaka. Faktanya ada banyak sekali yang dengan mudahnya disuap oleh oknum-oknum untuk keuntungan kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan bangsa. Jelas bahwa masih sedikit yang memahami makna patriotisme itu sendiri. Contoh lain pada pelajaran kalkulus. Memang kalkulus merupakan ilmu fundamental perhitungan namun bagaimana jika kita memutuskan untuk berkarir di bidang asuransi dan ditempatkan sebagai marketing sedangkan pemahaman kita mengenai penjualan hanya sedikit. Kita perlu belajar lebih banyak dari yang diberikan bangku Pendidikan. Toh asuransi tidak hanya sebatas penjualan, melainkan membujuk nasabah sehingga kita harus cukup percaya diri dan berlaku seolah benar-benar mengerti apa yang ia butuhkan.

Sekarang muncul pertanyaan apakah sekolah benar-benar telah mengajarkan bekal dalam menghadapi dunia riil? Nampaknya tidak. Mari melihat sejarah billionaire seperti Bill Gates yang drop out dari Universitas Harvard telah mendirikan perusahaan software raksasa Microsoft dan menjadi salah satu deretan orang paling kaya di Amerika. Nasihat lama yang telah saya sampaikan bisa dibilang tidak lagi relevan. Kendati nilai bagus di sekolah dapat memberikan peluang kita untuk berkarir di perusahaan ternama namun kita tetap harus memperhatikan bahwa ada begitu banyak lulusan dengan kemampuan yang sama dengan yang kita miliki atau bahkan lebih yang juga menginginkan posisi tersebut. Ketersediaan lapangan pekerjaan lebih sedikit daripada jobseeker sehingga banyak lulusan universitas yang menganggur. Kalaupun berhasil diterima bekerja, gaji dan tunjangan sosial yang diterima akan berdasarkan kontribusi individu. Artinya nilai yang Anda terima akan lebih besar jika Anda bekerja lebih keras.

Katakanlah karir yang Anda punyai cukup menjanjikan dan Anda memiliki penhasilan yang stabil. Anda bekerja kemudian terpikir untuk menikah dan hidup bersama pasangan Anda. Kemudian Anda dan pasangan sepakat untuk mengambil hunian dan kendaraan kredit yang diangsur setiap bulan. Anda memiliki anak pertama, kebutuhan pun meningkat dan Anda perlu bekerja lebih keras untuk bisa mengirim anak Anda ke perguruan tinggi. Begitu pula pada anak kedua dan seterusnya tanpa menyadari Anda telah menua dan kesehatan Anda telah menurun.

Lantas bagaimana jika perusahaan mendadak mengumumkan perampingan atau restrukturisasi akibat otomatisasi untuk mengurangi ongkos? Banyak orang yang akan di-PHK termasuk Anda, keluarga menderita dan pengangguran meningkat. Anda akan berpikir untuk mencari pekerjaan lagi, membangun karir mulai dari nol di tempat baru. Nah bagaimana jika di tempat baru pekerjaan yang harus Anda tangani lebih berat? Namun Anda teringat akan berbagai tagihan dan cicilan yang harus Anda bayar sehingga seperti tidak ada pilihan lain, Anda akan tetap menerimanya meskipun Anda sudah berumur.

Peristiwa-peristiwa seperti itu terus terjadi berulang-ulang sehingga salah satu investor dan jutawan Robert Kiyosaki menyebutnya sebagai perlombaan tikus. Ia menuturkan “Jika Anda melihat kehidupan orang-orang yang pendidikannya sedang-sedang saja dan bekerja keras, ada jalan yang serupa. Anda dilahirkan dan pergi ke sekolah. Orang tua bangga dan senang karena anaknya unggul, memperoleh nilai baik dengan jujur dan diterima di sebuah universitas bergengsi. Anak itu lulus dan mungkin melanjutkan ke program pasca-sarjana dan kemudian melakukan persis seperti yang telah diprogramkan: mencari pekerjaan atau karir yang aman dan terjamin. Si anak mendapatkan pekerjaan itu, mungkin sebagai dokter atau pengacara, atau bergabung dengan angkatan bersenjata atau menjadi pegawai negeri. Biasanya si anak mulai menghasilkan uang, kartu kredit mulai ‘dikoleksi’ dan belanja pun dimulai. Karena sudah mempunyai uang untuk dibelanjakan, sang anak pergi ke tempat-tempat dimana anak-anak muda lainnya senang berkumpul dan mereka bertemu banyak orang, mereka berkencan dan menikah.”

Pernikahan merupakan suatu keputusan yang besar sehingga akan ada banyak aktivitas yang berubah. Jika keduanya bekerja, maka tentu menggembirakan jika dua penghasilan dalam sebuah keluarga. Mereka merasa berhasil dan memiliki masa depan yang cerah sehingga memutuskan untuk membeli rumah, mobil, berbagai peralatan elektronik dan furniture, berlibur dan bahkan memiliki anak. Segumpal kegembiraan tiba dan permintaan uang tunai sangat besar. Pasangan yang bahagia itu memutuskan bahwa karir mereka sungguh penting dan mereka mulai bekerja lebih keras, mencari promosi dan kenaikan gaji. Boleh jadi kenaikan gaji terpenuhi dan mereka memiliki seorang anak lagi sehingga kebutuhan hidup juga meningkat lebih besar. Mereka bekerja lebih keras, menjadi karyawan yang lebih baik dan lebih berdedikasi bahkan kembali ke sekolah lagi untuk mendapatkan ketrampilan yang lebih terspesialisasi dengan harapan bisa menghasilkan uang lebih banyak. Pasangan bahagia itu yang terlahir puluhan tahun yang lalu terperangkap dalam perlombaan tikut selama sisa hari-hari kerja mereka. Mereka bekerja untuk pemilik perusahaan, pemerintah, membayar pajak, tagihan bank, kartu kredit dan rumah.

Kemudian mereka menasihati anak-anak mereka sendiri untuk melakukan hal yang sama. Mereka tidak belajar apapun tentang uang dan terus hidup dalam kenaifan, bekerja keras sepanjang hidup mereka. Proses itu berulang pada generasi selanjutnya yang bekerja keras. Inilah yang disebut “Perlombaan Tikus”. Menurut Robert Kiyosaki satu-satunya cara untuk keluar dari “Perlombaan Tikus” adalah membuktikan keahlian Anda dalam akuntansi dan investasi. Dalam kata lain, Anda harus melek finansial.

Mengapa melek finansial sangat penting dan bagaimana untuk bisa melek finansial? Temukan jawabannya pada edisi tulisan berikutnya!

Share this post

Post Comment