INDONESIA MERDEKA (?)

INDONESIA MERDEKA (?)

Iklan Premium

Kemerdekaan Indonesia memang telah dideklarasikan pada 1945. Itu artinya kita sudah bebas selama 72 tahun untuk menentukan kemana arah bangsa dan negara ini melangkah, tanpa ada intervensi dari negara lain. Namun bagi saya Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Mengapa saya berpendapat demikian? Karena nyatanya, kekuatan asing masih mendominasi dan sangat berpengaruh pada setiap kebijakan. Apalagi di zaman globalisasi saat ini, sangat mudah memasukkan sesuatu yang asing dengan mengatasnamakan borderless globalisasi. Globalisasi bisa menjadi sangat buruk jika kita tidak bisa mengendalikannya. Dan itu hanya bisa tercapai jika kita punya power yang cukup. Yang saat ini saya lihat, alih-alih mengendalikan, Indonesia justru dikendalikan, terseret arus dan semakin menghujam ke dalamnya. Beberapa negara pada akhirnya memutuskan untuk menutup diri, benar-benar tertutup dari pengaruh luar sebab khawatir hal itu akan mengikis dan bahkan menghilangkan nilai-nilai lama yang dipercaya baik dan berlaku sedari dulu di masyarakat. Nilai-nilai dan budaya-budaya itu penting untuk dijaga, sebab kehilangannya sama saja kehilangan jati diri bangsa yang menimbulkan kegoncangan dalam tubuh masyarakat.

(Sumber: youthmanual.com)

Namun saya juga tidak setuju jika kita terlalu menutup diri. Sebab transfer ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih mudah jika kita terbuka, dengan pemahaman yang lebih baik mengenai keduanya, negara kita dapat berkembang. Yang perlu diingat adalah bahwa tingkat persaingan dunia global semakin tajam. Katakanlah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan, namun di sisi lain kita hanya mampu menerimanya sementara ada banyak negara yang berusaha menyempurnakan atau bahkan menemukan yang lainnya. Mereka bekerja lebih keras, giat, disiplin, konsisten dan ketercapaian target telah menjadi keharusan yang diwujudkan.

Saya harus katakan bahwa saat ini Indonesia hanya menerima, menerima dan menerima. Lihatlah bagaimana negara dengan penduduk terbanyak keempat dunia ini telah menjadi sasaran pasar yang sangat empuk. Menjamurnya produk-produk luar seperti unilever dan lion dengan jenis dan varian produk. Bagaimana Apple, Asus, Oppo, Vivo, Samsung berlomba merajai pasar smartphone yang telah menjadi keharusan kepemilikan bagi setiap lapisan masyarakat. Kita terus membeli dan memberikan begitu banyak keuntungan untuk mereka. Sedangkan kita tidak pernah diberi keuntungan karena belum mampu menembus pasar mereka. Banyaknya proyek-proyek besar Indonesia juga tak luput dari perhatian. Bagaimana proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya dikerjakan oleh Jepang, juga MRT Jakarta. Beberapa dari anak bangsa memang memiliki prestasi yang mengejutkan. Namun ketidakmampuan negara dalam mengakomodasinya merupakan kesia-siaan yang amat disayangkan hingga pada akhirnya negara lain yang melirik bakat tersebut. Negara itu melihat potensi anak bangsa yang layak dikembangkan, dana digelontorkan dan riset dilakukan dengan konsekuensi hak paten diberikan pada mereka.

Meskipun memiliki sumber daya alam yang bisa bikin negara lain luar biasa iri, namun Indonesia memiliki keterbatasan dalam mengelola dan mengakses sumber daya yang dimiliki. Saya percaya bahwa pemerintah telah berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas dan fungsinya. Tapi mengurus satu negara sebesar Indonesia tidaklah mudah, negara dengan luas lebih dari 5 juta km2, lebih dari 15 ribu pulau dan kepulauan. Tantangan yang dihadapi lebih banyak sebab etnis Indonesia sangat beraneka ragam, perlu usaha ekstra untuk menyatukan isi kepala lebih dari 250 juta penduduk dalam satu jalur.

(Sumber: flickr.com)

Mengutip dari perkataan Bung Karno bahwa jika perjuangan dulu berperang melawan penjajah, maka perjuangan sekarang lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Jika saya boleh menafsirkan maka itu berarti perbedaan kepentingan yang dibawa dalam menjalankan pemerintahan. Dan malangnya itu dilakukan oleh banyak pihak. Celakanya, hal ini bisa memberikan dampak yang signifikan bagi setiap lini kehidupan masyarakat. Namun kita tidak boleh meremehkan beberapa prestasi Indonesia seperti kejayaan perusahaan alutsista Indonesia yang mampu bersaing dengan pihak asing, PT. PINDAD dan yang baru-baru ini PT. Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menelurkan pesawat N219 yang sepenuhnya dikerjakan anak bangsa dan ditujukan sebagai alat transportasi wilayah perintis dengan kapasitas penumpang 19 orang. Dengan beragam kekacauan parlemen, negeri ini membuktikan bahwa Ia masih bisa berkarya. Apalagi jika kekacauan itu diubah dalam keteraturan yang harmonis. Tentu akan ada lebih banyak prestasi dan karya putra-putri bangsa yang manis.

Jadi menurut kaca mata saya, Indonesia masih dalam tahap transisi dalam perebutan kemerdekaan yang sesungguhnya. Saya katakan demikian sebab perang yang dihadapi saat ini merupakan perang kasat mata. Kita tidak lagi mengangkat senjata, namun sekarang kita menghadapi perang teknologi dan informasi. Jika keduanya mampu ditaklukkan, maka sudah dipastikan negara itu akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dengan kekuatan perekonomian dan didukung pertahanan dan keamanan yang mumpuni secara tidak langsung negara itu akan disegani dan diperhitungkan setiap kebijakannya oleh negara lain.

Lantas bagaimana untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya? Yang pertama dan utama untuk dilakukan adalah memaksimalkan pengolahan sumber daya manusia, dalam hal ini adalah pikiran dan nurani. Banyaknya kasus kriminalitas sebab rendahnya moral dan dorongan keadaan. Ketidakmampuan dalam pemenuhan ekonomi mendorong orang baik melakukan kejahatan saat diberi kesempatan. Pun untuk orang bermoral rendah akan melakukannya juga sebab ketidakmampuan membendung keinginan kendati memiliki segala hal yang cukup. Kekacauan dan kebobrokan ini terjadi bukan perkara kesalahan sistem, namun lebih kepada pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Tingginya angka korupsi di Indonesia membuktikan bahwa para politisi kita memiliki kebutaan nurani. Kebodohan bisa dihapus dengan belajar, kemiskinan dapat diatasi dengan bekerja giat, namun ketidakjujuran itu penyakit mental yang sungguh sulit disembuhkan.

Tidak ada maksud memperlihatkan siapa yang salah dan siapa yang benar dalam penulisan artikel ini. Namun ini merupakan refleksi bersama, Harapan saya untuk siapapun yang membaca tulisan ini dapat melihat lebih jauh dalam diri masing-masing. Sebab mengetahui kekurangan diri sangat penting sebelum itu mengarah pada kesalahan di kemudian hari.


Iklan Premium

Share this post

Post Comment